MEMAKNAI IBADAH SHOLAT SEBAGAI
MI’RAJNYA ORANG BERIMAN
OLEH :
Muhammad Hisyamsyah Dani
Empat belas abad yang lalu, manusia
yang paling mulia, yaitu Rasulullah Saw. Melakukan perjalanan yang menakjubkan
dan sulit dipercaya daya nalar umat pada saat itu, kecuali orang-orang yang
kadar keimanannya begitu kuat, termasuk Abu Bakar. Dia lah sahabat pertama
Rasul yang membenarkan peristiwa Isra’ Miraj yang dialami oleh Rasulullah Saw.
Sehingga beliau mendapat gelar As-Siddiq yang artinya benar. Terlepas dari
peristiwa Isra’ Miraj yang terjadi kepada diri Rasulullah Saw. Maka sebenarnya
yang perlu kita perhatikan adalah pesan yang didapat oleh Rasul dari Allah Swt
yaitu perintah Sholat. Sebuah perintah yang Maha agung sebagai perwujudan dari
pengabdian manusia untuk selalu ingat kepada Allah Swt.
Begitu mulianya perintah Sholat
ini, sehingga Rasul diperjalankan oleh Allah dari langit dunia sampai ke
Sidratul Muntaha bertemu Allah Swt hanya untuk menerima perintah mulia ini dan
memerintahkan kepada seluruh umat manusia untuk menjalankan segala aktifitas
ibadah dari Allah tersebut. Ada kisah yang sebenarnya dapat kita cermati sebagai
dispensasi dari Allah memberikan perintah Sholat ini kepada Rasulullah. Terjadi
tawar-menawar sehingga Sholat yang pada awalnya disyariatkan sebanyak 50 waktu
dalam sehari semalam menjadi 5 waktu yang ditetapkan oleh Allah Swt. Begitu
berkecamuknya perasaan Rasulullah kala itu ketika mengetahui apakah umatnya
kelak akan mampu menjalankan perintah sebanyak itu, maka Rasulullah berusaha
memohon kepada Allah agar perintah agung ini diberikan pemotongan sehingga
umatnya kelak mampu menjalankannya. Namun, yang menjadi pertanyaan, apakah
sekarang manusia memaknai dan mengaplikasikan perintah agung dari Allah ini
dengan kesungguhan hati untuk beribadah kepadaNya ? rasanya sudah sangat jarang
manusia zaman sekarang ini menjadikan Sholat sebagai ibadah yang bukan hanya
ritual kewajiban namun dibalik itu semua tersimpan kedahsyatan dan kegembiraan
‘berkomunikasi’ dengan Sang Ilahi Robbi.
Sholat merupakan Ibadah yang
menuntut setiap manusia bukan hanya sekedar mengerjakannya namun dituntut agar
selalu memaknai apa arti yang terkandung dari ibadah suci ini. Sebuah Hadis
Rasul mengatakan bahwa “Sholat merupakan tiang agama” jelaslah bahwa sholat
kita ibaratkan sebagai fondasi bangunan rumah keruhanian kita, seiring kita
selalu mengerjakannya maka kita akan memperkokoh tiang-tiang agama kita,
sebaliknya tatkala kita jauh dan enggan dalam mengerjakannya maka bersiaplah
menanti kerobohan penyangga kekuatan agama kita. Sebenarnya, sangat malu bila
kita sampai lalai bahkan cenderung melupakan Allah dalam setiap jengkal langkah
hidup kita. Betapa besar nikmat Allah yang diberikan kepada manusia, sehingga
wajar dan bahkan wajib manusia mengabdi kepada Allah semata-mata. Bahkan wajar
pulalah apabila tujuan penciptaan manusia adalah untuk mengabdi (beribadah)
kepada Allah. Sebagaimana Firman Allah dalam Al-Qur’an surah Adz-Dzariyat ayat 56 yang artinya : “Dan
tidaklah aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu”.
Manusia adalah makhluk yang diciptakan sedangkan Allah adalah Khaliq ( Pencipta
). Konsekwensinya adalah makhluk yang diciptakan harus melakukan pengabdian
(beribadah) secara penuh kepada Khaliq yang menciptakan.
Tidak diragukan lagi, bahwa
karena sifat Rahman dan Rahimnya Allah-lah Dia memberikan perintah mulia ini
kepada umat manusia agar selalu ingat dan membiasakan diri untuk selalu
‘berkomunikasi’ denganNya. Sangat lah hambar kita rasakan manakala sudah
terbiasa ingat kepada Allah melalui perintah Sholat namun sekali waktu kita
lali dalam mengejakannya. Karena dalam perintah sholat inilah sebenarnya
hakikat perjalanan atau Miraj’ ruhaniyah kita hadir di depan Hadirat Allah Swt.
Melalui Sholat diri kita secara langsung dapat bertemu dan berkomunikasi dengan
Sang Ilahi Robbi, manakala kita selalu ingat dan butuh Allah maka kita akan
merasa ada yang kurang jika kita lupa dan lalai dalam mengingatNya. Hal ini
dijelaskan oleh Allah dalam FirmanNya Al-Qur’an Surah Taha ayat 14 yang artinya
: “ Sungguh, aku ini Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan
laksanakanlah sholat untuk mengingat Aku”.
Perwujudan diri dan
pengaktualisasian hakikat ibadah Sholat bukan hanya sekedar telah cukup
bersuci, menutup aurat, menghadap kiblat, sampai memenuhi syarat dan rukunnya.
Namun, yang menjadi acuan kita bersama adalah bahwa sholat semestinya haruslah
disertai siraman-siraman hakikat kecintaan dan kerinduan kita kepada Allah Swt.
Sholat akan terasa kering dan gersang manakala kita hanya mengerjakannya
sebagai tuntutan agama saja. Namun akan terasa lebih indah perjumpaan kita
dengan Allah swt tatkala kita menyertainya dengan unsur-unsur bathiniyyah yang
penuh siraman kesucian niat dari dalam diri kita untuk selalu ingat kepada
Allah swt.
Jika sudah begitu manisnya iman
akan hadir ditengah-tengah diri manusia yang ikhlas dan istiqomah dalam
menjalankan setiap perintah Allah. Sebagaimana Hadis mengatakan yang
diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim yang artinya : “ Tiga perkara yang apabila
terdapat pada diri seseorang, niscaya ia telah merasakan manisnya iman, yaitu
hendaklah Allah dan RasulNya lebih dicintainya dari yang lain, hendaklah
mencintai seseorang karena Allah semata-mata, dan hendaklah ia benci untk
kembali kepada kekafiran sebagaimana ia benci kalau akan dicampakkan ke dalam
api neraka”. ( HR. Bukhari dan Muslim ).
Begitu hebatnya kualitas kecintaan ibadah yang kita kerjakan semata-mata
hanya mengharap ridho Allah swt. Sholat yang kita kerjakan akan semakin hebat
daya persatuan dan pertemuan diri kita di hadapan Allah Swt. Jika dilandasi
kecintaan kepada Allah Swt.
Namun, sholat kita haruslah
didasarkan pada niat ikhlas semata.
Artinya, kerjakanlah perintah sholat itu tanpa kita berpikir balasan surgaNya
Allah. Namun, ikhlaslah dan tawakkal lah bahwasanya kita berharap Sholat kita
diterima Allah swt. Berapa banyak manusia yang mengerjakan sholat hanya untuk
dipandang sesama manusia mengharapkan SurgaNya namun, pekerjaan-pekerjaan yang
menghalangi diterimanya kualitas ibadah sholat nya tetap tumbuh subur dalam
hatinya, seperti berbangga diri, riya’ akan kualitas ibadahnya. Sungguh, merugi
lah manusia seperti itu, yang hanya mengerjakan sholat melepas kewajiban tapi
tidak berpikir apakah sholatku yang selama ini kukerjakan sudah pantaskah ?
layakkah ? untuk disaksikan dan dinilai Allah swt. Tentu saja kita perlu
merenungi dan resapi sudah sejauh mana kualitas ibadah Sholat kita.
Bila Rasulullah dulu ber mi’raj
menghadap Allah Swt setelah disucikan hati beliau dari sifat-sifat tercela agar
hati beliau berada dalam kesucian untuk bertemu HadiratNya. Nah, sekarang
giliran kita mengintropeksi hati kita masing-masing, sudah sucikah ? dan pantas
bila kita bermi’raj ke Hadirat Allah Swt. ? rasanya setiap diri kita akan mampu
manakala kita selalu ikhlas dan terus menyucikan hati ini untuk selalu ber
mi’raj kepada Nya melalui ibadah sholat yang mulia. Sebab bila sudah begitu
segala perbuatan yang mengarah kea rah kekejian dan kemungkaran akan sedikit
demi sedikit bisa kita kikis dari qolbu kita, bukankah, salah satu tujuan
ibadah sholat adalah menjauhkan diri setiap manusia dari perbutan keji dan
mungkar.
Sebagai sebuah kesimpulan, bahwa
sholat bukanlah semata-mata dikerjakan, melainkan didirikan. Bukan sekedar
kewajiban, namun haruslah menjadi kebutuhan kita sehari-hari sepanjang nafas
masih dikandung badan. Artinya, timbul dari dasar iman dan kesadaran sehingga
sholat dirasakan tidaklah berat. Bukan hanya wajah kita yang dihadapkan ke
kiblat, melainkan batin kita lah yang terlebih dahulu dihadapkan kepada Allah
Swt. Wallahu A’lam