Selasa, 19 Mei 2015

Artikel Islam

MEMAKNAI IBADAH SHOLAT SEBAGAI MI’RAJNYA ORANG BERIMAN
OLEH  :
Muhammad Hisyamsyah Dani


Empat belas abad yang lalu, manusia yang paling mulia, yaitu Rasulullah Saw. Melakukan perjalanan yang menakjubkan dan sulit dipercaya daya nalar umat pada saat itu, kecuali orang-orang yang kadar keimanannya begitu kuat, termasuk Abu Bakar. Dia lah sahabat pertama Rasul yang membenarkan peristiwa Isra’ Miraj yang dialami oleh Rasulullah Saw. Sehingga beliau mendapat gelar As-Siddiq yang artinya benar. Terlepas dari peristiwa Isra’ Miraj yang terjadi kepada diri Rasulullah Saw. Maka sebenarnya yang perlu kita perhatikan adalah pesan yang didapat oleh Rasul dari Allah Swt yaitu perintah Sholat. Sebuah perintah yang Maha agung sebagai perwujudan dari pengabdian manusia untuk selalu ingat kepada Allah Swt.

Begitu mulianya perintah Sholat ini, sehingga Rasul diperjalankan oleh Allah dari langit dunia sampai ke Sidratul Muntaha bertemu Allah Swt hanya untuk menerima perintah mulia ini dan memerintahkan kepada seluruh umat manusia untuk menjalankan segala aktifitas ibadah dari Allah tersebut. Ada kisah yang sebenarnya dapat kita cermati sebagai dispensasi dari Allah memberikan perintah Sholat ini kepada Rasulullah. Terjadi tawar-menawar sehingga Sholat yang pada awalnya disyariatkan sebanyak 50 waktu dalam sehari semalam menjadi 5 waktu yang ditetapkan oleh Allah Swt. Begitu berkecamuknya perasaan Rasulullah kala itu ketika mengetahui apakah umatnya kelak akan mampu menjalankan perintah sebanyak itu, maka Rasulullah berusaha memohon kepada Allah agar perintah agung ini diberikan pemotongan sehingga umatnya kelak mampu menjalankannya. Namun, yang menjadi pertanyaan, apakah sekarang manusia memaknai dan mengaplikasikan perintah agung dari Allah ini dengan kesungguhan hati untuk beribadah kepadaNya ? rasanya sudah sangat jarang manusia zaman sekarang ini menjadikan Sholat sebagai ibadah yang bukan hanya ritual kewajiban namun dibalik itu semua tersimpan kedahsyatan dan kegembiraan ‘berkomunikasi’ dengan Sang Ilahi Robbi.

Sholat merupakan Ibadah yang menuntut setiap manusia bukan hanya sekedar mengerjakannya namun dituntut agar selalu memaknai apa arti yang terkandung dari ibadah suci ini. Sebuah Hadis Rasul mengatakan bahwa “Sholat merupakan tiang agama” jelaslah bahwa sholat kita ibaratkan sebagai fondasi bangunan rumah keruhanian kita, seiring kita selalu mengerjakannya maka kita akan memperkokoh tiang-tiang agama kita, sebaliknya tatkala kita jauh dan enggan dalam mengerjakannya maka bersiaplah menanti kerobohan penyangga kekuatan agama kita. Sebenarnya, sangat malu bila kita sampai lalai bahkan cenderung melupakan Allah dalam setiap jengkal langkah hidup kita. Betapa besar nikmat Allah yang diberikan kepada manusia, sehingga wajar dan bahkan wajib manusia mengabdi kepada Allah semata-mata. Bahkan wajar pulalah apabila tujuan penciptaan manusia adalah untuk mengabdi (beribadah) kepada Allah. Sebagaimana Firman Allah dalam Al-Qur’an surah  Adz-Dzariyat ayat 56 yang artinya : “Dan tidaklah aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu”. Manusia adalah makhluk yang diciptakan sedangkan Allah adalah Khaliq ( Pencipta ). Konsekwensinya adalah makhluk yang diciptakan harus melakukan pengabdian (beribadah) secara penuh kepada Khaliq yang menciptakan.
Tidak diragukan lagi, bahwa karena sifat Rahman dan Rahimnya Allah-lah Dia memberikan perintah mulia ini kepada umat manusia agar selalu ingat dan membiasakan diri untuk selalu ‘berkomunikasi’ denganNya. Sangat lah hambar kita rasakan manakala sudah terbiasa ingat kepada Allah melalui perintah Sholat namun sekali waktu kita lali dalam mengejakannya. Karena dalam perintah sholat inilah sebenarnya hakikat perjalanan atau Miraj’ ruhaniyah kita hadir di depan Hadirat Allah Swt. Melalui Sholat diri kita secara langsung dapat bertemu dan berkomunikasi dengan Sang Ilahi Robbi, manakala kita selalu ingat dan butuh Allah maka kita akan merasa ada yang kurang jika kita lupa dan lalai dalam mengingatNya. Hal ini dijelaskan oleh Allah dalam FirmanNya Al-Qur’an Surah Taha ayat 14 yang artinya : “ Sungguh, aku ini Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah sholat untuk mengingat Aku”.

Perwujudan diri dan pengaktualisasian hakikat ibadah Sholat bukan hanya sekedar telah cukup bersuci, menutup aurat, menghadap kiblat, sampai memenuhi syarat dan rukunnya. Namun, yang menjadi acuan kita bersama adalah bahwa sholat semestinya haruslah disertai siraman-siraman hakikat kecintaan dan kerinduan kita kepada Allah Swt. Sholat akan terasa kering dan gersang manakala kita hanya mengerjakannya sebagai tuntutan agama saja. Namun akan terasa lebih indah perjumpaan kita dengan Allah swt tatkala kita menyertainya dengan unsur-unsur bathiniyyah yang penuh siraman kesucian niat dari dalam diri kita untuk selalu ingat kepada Allah swt.

Jika sudah begitu manisnya iman akan hadir ditengah-tengah diri manusia yang ikhlas dan istiqomah dalam menjalankan setiap perintah Allah. Sebagaimana Hadis mengatakan yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim yang artinya : “ Tiga perkara yang apabila terdapat pada diri seseorang, niscaya ia telah merasakan manisnya iman, yaitu hendaklah Allah dan RasulNya lebih dicintainya dari yang lain, hendaklah mencintai seseorang karena Allah semata-mata, dan hendaklah ia benci untk kembali kepada kekafiran sebagaimana ia benci kalau akan dicampakkan ke dalam api neraka”. ( HR. Bukhari dan Muslim ).  Begitu hebatnya kualitas kecintaan ibadah yang kita kerjakan semata-mata hanya mengharap ridho Allah swt. Sholat yang kita kerjakan akan semakin hebat daya persatuan dan pertemuan diri kita di hadapan Allah Swt. Jika dilandasi kecintaan kepada Allah Swt.

Namun, sholat kita haruslah didasarkan pada niat ikhlas  semata. Artinya, kerjakanlah perintah sholat itu tanpa kita berpikir balasan surgaNya Allah. Namun, ikhlaslah dan tawakkal lah bahwasanya kita berharap Sholat kita diterima Allah swt. Berapa banyak manusia yang mengerjakan sholat hanya untuk dipandang sesama manusia mengharapkan SurgaNya namun, pekerjaan-pekerjaan yang menghalangi diterimanya kualitas ibadah sholat nya tetap tumbuh subur dalam hatinya, seperti berbangga diri, riya’ akan kualitas ibadahnya. Sungguh, merugi lah manusia seperti itu, yang hanya mengerjakan sholat melepas kewajiban tapi tidak berpikir apakah sholatku yang selama ini kukerjakan sudah pantaskah ? layakkah ? untuk disaksikan dan dinilai Allah swt. Tentu saja kita perlu merenungi dan resapi sudah sejauh mana kualitas ibadah Sholat kita.

Bila Rasulullah dulu ber mi’raj menghadap Allah Swt setelah disucikan hati beliau dari sifat-sifat tercela agar hati beliau berada dalam kesucian untuk bertemu HadiratNya. Nah, sekarang giliran kita mengintropeksi hati kita masing-masing, sudah sucikah ? dan pantas bila kita bermi’raj ke Hadirat Allah Swt. ? rasanya setiap diri kita akan mampu manakala kita selalu ikhlas dan terus menyucikan hati ini untuk selalu ber mi’raj kepada Nya melalui ibadah sholat yang mulia. Sebab bila sudah begitu segala perbuatan yang mengarah kea rah kekejian dan kemungkaran akan sedikit demi sedikit bisa kita kikis dari qolbu kita, bukankah, salah satu tujuan ibadah sholat adalah menjauhkan diri setiap manusia dari perbutan keji dan mungkar.


Sebagai sebuah kesimpulan, bahwa sholat bukanlah semata-mata dikerjakan, melainkan didirikan. Bukan sekedar kewajiban, namun haruslah menjadi kebutuhan kita sehari-hari sepanjang nafas masih dikandung badan. Artinya, timbul dari dasar iman dan kesadaran sehingga sholat dirasakan tidaklah berat. Bukan hanya wajah kita yang dihadapkan ke kiblat, melainkan batin kita lah yang terlebih dahulu dihadapkan kepada Allah Swt. Wallahu A’lam